Menu

KEDUDUKAN TAKLIK TALAK DALAM PERKAWINAN

January 10, 2023

Pertanyaan:

Saya sering mendengar istilah taklik talak, ketika setelah mengucapkan ijab qabul pun saya mengucapkan taklik talak, bahkan di buku nikah saya di halaman paling belakang juga terdapat taklik talak. Sebenarnya apa kegunaannya dan bagaimana kedudukannya?

Intisari:

Taklik talak sendiri memiliki pengertian bahwa itu adalah sebuah perjanjian dimana suami menggantungkan terjadinya suatu talak atas isterinya apabila ternyata dikemudian hari suami melanggar salah satu atau semua yang ada dalam perjanjian taklik talak.

Penjelasan

Terimakasih atas pertanyaan saudara. Kami akan mencoba memberikan jawaban sebisa kami. Taklik Talak secara bahasa berarti penggantungan talak. Berdasarkan maklumat Kementerian Agama Nomor 3 Tahun 1953, Departemen Agama menganjurkan kepada pejabat daerah agar dalam pernikahan itu dibacakan taklik talak. Taklik talak merupakan pernyataan jatuhnya talak atau cerai sesuai dengan janji yang diucapkan. Dalam hukum Indonesia, taklik talak diartikan sebagai perjanjian yang diucapkan oleh calon mempelai pria setelah akad nikah yang dicantumkan dalam akta nikah berupa janji talak yang digantungkan kepada suatu keadaan tertentu yang mungkin terjadi di masa yang akan datang.

Berdasarkan Peraturan Menteri Agama RI Nomor 2 Tahun 1990, ada 10 unsur-unsur pokok sighat taklik talak, yaitu:

  • Suami meninggalkan istri;
  • Suami tidak memberi nafkah kepada istri;
  • Suami menyakiti istri;
  • Suami membiarkan (tidak memedulikan) istri;
  • Istri tidak rela;
  • Istri mengadu ke Pengadilan;
  • Pengaduan istri di terima oleh Pengadilan;
  • Istri membayar uang iwadh;
  • Jatuhnya talak satu suami kepada istri;
  • Uang iwadh oleh suami diterimakan kepada Pengadilan untuk selanjutnya diserahkan kepada pihak ketiga untuk kepentingan ibadah sosial.

Adapun perundang-undangan yang mengatur mengenai taklik talak juga diatur dalam Kompilasi Hukum Islam (KHI) dan Peraturan Menteri Agama No. 2 Tahun 1990. Dalam KHI taklik talak diatur dalam Bab VII mengenai perjanjian perkawinan yang terdapat dalam Pasal 45 dan 46 yang berbunyi:

Pasal 45

Kedua calon mempelai dapat mengadakan perjanjian perkawinan dalam bentuk:

(1) Taklik Talak, dan

(2) Perjanjian lain yang tidak bertentangan dengan Hukum Islam

Pasal 46

(1) Isi taklik talak tidak boleh bertentangan dengan Hukum Islam.

(2) Apabila keadaan yang disyaratkan dalam taklik talak betul-betul terjadi kemudian tidak dengan sendirinya talak jatuh. Supaya talak sungguh jatuh, istri harus mengajukan persoalannya ke Pengadilan Agama.

(3) Perjanjian taklik talak bukan suatu perjanjian yang wajib diadakan pada setiap perkawinan, akan tetapi sekali taklik talak diperjanjikan tidak dapat dicabut kembali.

Sedangkan Peraturan Menteri Agama No.2 Tahun 1990 diatur dalam Bab III tentang Pemeriksaan Nikah, pada Pasal 11 dan Pasal 24 yang berbunyi:

Pasal 11

(1) Calon suami istri dapat mengadakan perjanjian sepanjang tidak bertentangan dengan hukum Islam dan Peraturan Perundang-undangan yang berlaku;

(2) Perjanjian sebagaimana tersebut pada ayat (1) dibuat rangkap 4 diatas kertas bermaterai menurut peraturan yang berlaku. Lembar pertama untuk suami, lembar kedua untuk istri, lembar ketiga untuk PPN dan lembar keempat untuk Pengadilan;

(3) Perjanjian yang berupa taklik talak dianggap sah jika perjanjian itu dibaca dan ditandatangani oleh suami setelah akad nikah dilangsungkan;

(4) Shighat taklik talak ditetapkan oleh Menteri Agama;

(5) Tentang ada atau tidak adanya perjanjian sebagaimana dimaksud ayat (1) dan ayat (3) dicatat dalam daftar pemeriksaan nikah.

Pasal 24

(1) Apabila waktu pemeriksaan nikah calon suami istri telah menyetujui adanya taklik talak sebagaimana dimaksud Pasal 11 ayat (3), maka suami membaca dan menandatangani taklik talak sesudah akad nikah dilangsungkan;

(2) Apabila waktu nikah suami mewakilkan qabul kepada orang lain, maka taklik talak itu dibaca dan ditandatangani oleh suami pada waktu yang lain di muka PPN/Pembantu PPN tempat akad nikah dilakukan atau yang mewilayahi tempat tinggalnya.

Pada dasarnya mengucapkan shighat taklik talak bukanlah suatu keharusan, karena hal itu dilakukan secara sukarela. Namun perjanjian taklik talak yang sudah diperjanjikan tidak dapat dicabut kembali karena telah bersifat mengikat.

Sejalan dengan hukum perkawinan untuk tidak membuat perceraian sebagai suatu hal yang mudah untuk dilakukan, Kompilasi Hukum Islam kemudian memandang taklik talak ini bukan sebagai alasan perceraian, tetapi lebih ditempatkan dalam perjanjian perkawinan yang dibuat dan disetujui oleh kedua belah pihak. Hal ini dapat dibuktikan bahwa dalam Pasal 46 dari KHI yang mengatakan bahwa jika suami melanggar taklik talak, perceraian tidak otomatis terjadi, tetapi perceraian tetap masih digantungkan pada pengaduan sang istri yang diajukan ke Pengadilan Agama.

Akan tetapi taklik talak juga menjadi salah satu syarat istri dapat mengajukan gugatan perceraian di Pengadilan, sebagaimana yang disebutkan dalam Pasal 116, yang berbunyi,

Perceraian dapat terjadi karena alasan atau alasan-alasan:

a. Salah satu pihak berbuat zina atau menjadi pemabuk, pemadat, penjudi dan lain sebagainya yang sukar disembuhkan;

b. Salah satu pihak meninggalkan pihak lain selama 2 (dua) tahun berturut-turut tanpa izin pihak lain dan tanpa alasan yang sah atau karena hal lain diluar kemampuannya;

c. Salah satu pihak mendapat hukuman penjara 5 (lima) tahun atau hukuman yang lebih berat setelah perkawinan berlangsung;

d. Salah satu pihak melakukan kekejaman atau penganiayaan berat yang membahayakan pihak lain;

e. Salah satu pihak mendapat cacat badan atau penyakit dengan akibat tidak dapat menjalankan kewajibannya sebagai suami atau istri;

f. Antara suami dan istri terus menerus terjadi perselisihan dan pertengkaran dan tidak ada harapan akan hidup rukun lagi dalam rumah tangga;

g. Suami melanggar taklik talak;

h. Peralihan agama atau murtad yangt menyebabkan terjadinya ketidakrukunan dalam rumah tangga.

Demikianlah jawaban yang dapat kami berikan, semoga dapat bermanfaat bagi semua, kurang dan lebihnya kami mohon maaf, dan kami ucapkan terimakasih.

Referensi

Kompilasi Hukum Islam
Ahmad Azhar Basyir, Hukum Perkawinan Islam, Yogyakarta: UII-Press, 2000
Alamat Kantor
Jl. Kaligawe Raya No.KM, RW.4, Terboyo Kulon, Kecamatan Genuk, Kota Semarang, Jawa Tengah 50112
crosschevron-downchevron-down-circle linkedin facebook pinterest youtube rss twitter instagram facebook-blank rss-blank linkedin-blank pinterest youtube twitter instagram